Sunday, March 09, 2014

Writing “Mode On” (2nd Class Review)

Writing “Mode On”

Lagi lagi literasi dan memang harus literasi. Sedikit membuka class review kali ini dengan menyadarkan bangsa kita agar meningkatkan praktek literasi. Muak dengan berbagai komenan dan cacian mereka yang menyalahkan bangsa sendiri ketimbang bahu membahu membangun bangsa dengan menumbuhkan benih-benih praktek literasi saat ini juga. Ya, salah satunya adalah menulis. Saya tidak akan berkoar-koar menyuluhkan untuk membaca atau menulis. Saya akan mencoba lewat dunia saya ini, membantu MENULIS, menanamkan benih kecil praktek literasi.
Sebelum kita menyantap main course, kita santap appetizernya dulu. Mengulas sedikit highlight besar materi minggu lalu diantaranya;  pertama,  kiblat writing 4 adalah academic writing yang otomatis akan belajar menulis ilmiah (scientific writing). Kedua, critical thinking. It means that you will take a text for granted. Ketika critical reader dihadapkan dengan sebuah teks atau informasi, ia tidak akan menelan mentah-mentah semua teks itu. Perlu diingat semua teks dibuat untuk suatu tujuan. Tidak jarang apabila sebuah teks diragukan kebenarannya karena salahnya informasi yang dibawanya. Critical thinking membuat pembaca berhat-hati dalam mengambil keputusan.
Ketiga, how students of language become students of writing. Seseorang belajar bahasa, otomatis ia akan belajar semua aspek kebahasaan termasuk writing, namun kenyataannya tidak semua yang pandai berbahasa juga pandai dalam menulis. Keberadaan writing sebagai salah salah bentuk literasi tertinggi –lingkup baca tulis- menjadikannya tolak ukur seseorang menguasai bahasa. Oleh sebab itu jelas apabila menulis itu tidak boleh sembarangan. Diperlukan pembelajaran yang khusus dan latihan yang intens untuk  menguasainnya.
Lezatnya appetizer telah kita rasakan, selanjutnya giliran main course kita hari ini. Main coursekita masih seputar writing namun dengan cita rasa yang berbeda. Menulis sebagai salah satu bentuk meditasi dimana ketika seseorang menulis, bukan hanya tangan atau jari-jari yang bekerja tapi semua anggota tubuh ikut berpartisipasi.  Ketika menulis otak berfikir menemukan ide dan merangkainya menjadi kata, kemudian mulut turut merespon dengan melafalkannya. Hatipun berperan dalam mengkorelasikan kata dengan makna, setelah itu giliran tangan yang mengukir hasil proses tadi menjadi sebuah karya indah bernama tulisan. Jadi, pantas apabila menulis dikatakan literasi tingkat tertinggi.
Selain writing itu tidak mudah, writing juga kompleks karena ia terikat dengan hal lainnya, antara lain:
1.      Writing is the way of knowing something
2.      Writing is the way of representing something
3.      Writing is the way of reproduce something.
Writing is the way of knowing something. Ketika hendak menulis, penulis biasanya akan mencari beberapa data seperti materi yang berkaitan dengan tulisannya dan pendekatan apa saja yang akan digunakan. Pencarian itu dilakukan dengan membaca, lewat itulah seorang penulis memperoleh informasi sehingga membuat mereka mengetahui banyak hal. Seperti contoh, me as an author and Mr.Lala as a reader. Jadi sebelum saya menulis saya harus mengetahui terlebih dahulu buku apa saja yang beliau sudah baca, pengetahuan apa saja yang sudah beliau miliki, bagaimana cara berfikir beliau. Dengan begitu saya bisa memaksimalkan tulisan saya sesuai selera beliau.
Selanjutnya writing is the way of representing something. Kegiatan menulis berarti pasti menghadirkan atau menyuguhkan sesuatu. Dengan menulis, penulis menyampaikan informasi yang didapatnya dari proses membaca ataupun pengalaman. Sebuah tulisan pasti mewakili keadaan penulisnya, hal ini dapat dilihat dari segi isinya, penggunaan kosakata dan bahasa serta sudut pandang (voice) sang penulis.
Kemudian, writing is the way of reproduce something. Jangan kira kegiatan menulis hanya sebatas menuangkan ide, lebih dari itu seseorang menghasilkan banyak hal dengan menulis. Dari lingkup terkecil seperti memproduksi kata dan seni hingga lingkup paling luasnya seperti memproduksi pengetahuan, pengalaman bahkan penghasilan. Mengapa? because you can make anything by writing (C.S Lewis).
Jadi dapat disimpulkan bahwa
Information (input) à Knowledge (proses)  à Experience (output).
Menulis berarti mengimput informasi terutama bagi penulis itu sendiri, kemudian informasi itu diproses bersama pengetahuan lainnya dan menghasilkan output berupa experience yang tidak mungkin didapat tanpa mengalaminya sendiri. Pada kegiatan ini, yang ditekankan adalah experiencenya karena experience ini adalah saat dimana seseorang menikmati sebuah informasi. Apabila kualitas rekamannya (proses) baik  maka kualitas ingatannya pun akan baik.
Sebagai mahasiswa yang belajar bahasa asing, secara jelas Mr. Lala said that when we write in more than one language, it means that we are exclusive because multilingual writer is exclusive. In his ownperspective we are A MULTILINGUAL WRITER, who writes effectively in L1 and L2; who serves as a critical reader both in L1 and L2; who transforms ourself from a student of language into a student of writing; who can make informed choices in life; who can change the world. So, it is depend on how we use our coil of energy – L1 and L2 - maximally.
Kembali ke pokok pembahasan, dalam bukunya Hyland berkata bahwa menulis merupakan suatu praktek yang didasarkan pada keinginan pembaca. Kemungkinan pembaca akan dengan mudah menafsirkan maksud penulis, ketika penulis dapat mengantisipasi apa yang mungkin pembaca harapkan. Biasanya pembaca mengharapkan bahwa tulisan tersebut tidak berbeda jauh dengan apa yang telah dibaca sebelumnya. Oleh karena itu penting bagi penulis mengetahui backround pembaca guna memaksimalkan keinginannya.
Kaitannya dengan writing, seorang penulis tidak bisa dikatakan penulis ketika tidak ada pembaca. Oleh karenanya Hoey mendeskripsikan keduanya seperti hubungan seni. Layaknya sebuah tarian, writer dan reader berpasangan saling melengkapi satu sama lain, menyamakan langkah agar seirama dan bekerja sama membangun makna. Jadi writer dan reader membangun koneksi lewat pemaknaan text (meaning formation), karena sejatinya makna tidak terjadi atas teks melainkan berdasar sudut pandang seorang reader.
Memang sulit untuk menjadi seorang writer, namun akan jauh lebih sulit menjadi seorang reader. Mengapa demikian? Mr.Lala berkata bahwa writer itu kerjanya hanya menulis, setelah itu tidak ada lagi yang iakerjakan. Nasib tulisan writer pun bergantung pada reader karena reader yang menentukan apa yang ia akan baca. Namun tidak dengan Gay Cook, ia mengatakan bahwa “ahli bahasa mengkarakteristikan situasi bahasa dalam konteks. Kamu sebagai pembaca tidak melihat aku sebagai penulis, apa yang aku lakukan ketika menulis, kamu sebagai pembaca hanya bisa menikmati hasil dari informasi-informasi yang saya tulis. Kamu sebagai pembaca Hanya tahu apa yang diinformasikan apa yang dikoneksikan, sebagai individu yang mempresentasikan sendiri hasil tulisan dari penulis.” Jadi menurut beliau apa yang dilakukan oleh penulis, itu pembaca tidak akan tahu.
Menengahi keduanya bahwa baik posisi writter ataupun reader sama-sama pentingnya, karena reader juga berperan penting, ia yang menghidupkan ruh-ruh tulisan serta mengawinkan makna yang dimaksud penulis dan makna yang ia bentuk sendiri. Oleh karena itu negosiasi makna akan terus terjadi di posisi reader. Reader berhak sepenuhnya atas teks yang ia baca, jika readernya kritis teks akan bertahan lama karena informasi itu terus berlanjut, tapi apabila readernya biasa-biasa saja maka teks tersebut mati sampai diasana karena konteks sebagai benda yang mati. Maka dari itu Barthes mengatakan bahwa kehadiran pembaca menandakan kematian penulis.
Dalam menulis kita dihadapkan dengan teks, context, reader, writer dan meaning. Di sini akan dibahas kembali mengenai hubungan antara text, context, reader, writer dan meaning. Berdasarkan buku “The Cultural Analysis of Text” oleh Mikko Lehtonen menjelaskan bahwa dimensi teks itu dibagi dua.
1.       Text as pysical being
Dimana teks merupakan bentuk fisik sebuah informasi atau artefak komunikasi. Teks yang dimaksud tidak hanya hasil tulisan tangan semata tetapi juga yang diproduksi oleh teknologi.
2.      Text as semiotic being
Dimana teks melambangkan suatu simbol dan didalamnya memiliki karakteristik materiality, formal relations and meaningfulness.
Text dan reader menghasilkan satu sama lain dalam arti masing-masing tidak bisa berdiri sendiri. Keduanya dihubungkan dengan kegiatan membaca (reading) dan bersama-sama membentuk makna serta membawa pengetahuan pembaca ke dalam teks. Dengan kata lain teks disuguhkan dan dibawa oleh writersedangkan conteks ada pada  reader  dan diantara keduanya terdapat meaning, itulah koneksinya.
Meaning antara reader dan writer tidak selalu berjalan searah,  tidak jarang meaning gagal terbangun dan terjadi missunderstanding. Mengapa demikian? Experience. Keduanya kadang kala mempunyai experience yang berbeda atau tidak sesuai satu sama lain. Bila disuruh mengkritisi keduanya harus mengetahui background masing-masing.
Sedikit berbicara dari kubu yang berbeda dengan bapak Chaedar, disana ada bapak Hawe Setiawan yang mengungkapkan argumennya melalui artikel berjudul Belajar Membaca. Menurutnya masyarakat Indonesia sudah sangat kritis karena mampu ambil bagian dalam kemajuan informasi komunikasi secara langsung lewat internet. Hawe berargumen bahwa menulis kritis tidak hanya terjadi saat kita menulis formal, di dunia mayapun kita bisa menulis kritis seperti menulis status atau berkomentar, berawal dari situ sedikit demi sedikit akan terbiasa untuk menulis. Hal ini bertolak belakang dengan argumen bapak Chaedar yang notabene mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak kritis dan juga statis. Dalam bukunya yang berjudul Pokoknya RekayasaLiterasi ia hanya menyoroti menulis dalam konteks formal saja.
Ya, akhirnya lengkap sudah jamuan kita hari ini, menu lengkap tersedia dari appetizer, main course hingga desert. Jadi yang bisa saya simpulkan adalah writing sebagai praktek literasi sejatinya memang harus dibiasakan. Pendidikan literasi (baca-tulis) bangsa kita masih terpuruk, oleh karenanya kunci kesuksesan negara lain tidak ada salahnya kita contoh. Banyak negara yang besar karena praktek literasinya, katakanlah Korea Selatan, Jepang, Prancis, Australia, dan lainnya.
Sebagai contoh Korea Selatan. Mengapa saya mengambil korea selatan sebagai contoh? KarenaSejatinya, Korea Selatan dan Indonesia sama-sama terbebas dari penjajahan Jepang pada tahun 1945. Ya, hanya selisih beberapa hari saja. Tepatnya, dua hari setelah Korea Selatan merdeka, Indonesia pun memproklamirkan diri sebagai republik. Kondisi perekonomian yang morat marit, manajemen pemerintahan yang rawan konflik, kualitas sumberdaya manusia yang rendah hingga munculnya konflik kepentingan mewarnai perjalanan kedua republic pasca kemerdekaan.
Namun, negeri Korea yang minim sumberdaya alam mampu meninggalkan jauh Indonesia. Setidaknya, kemajuan yang ditunjukkan Korea Selatan pada dunia selama ini dapat diambil pelajaran. Diantaranya; pertama karena Bangsa Korea Selatan berjuang mati-matian untuk memajukan bangsanya agar dapat menyalip negara  yang pernah menjajahnya yakni Jepang atau Negara-negara yang pernah melecehkannya seperti Amerika. Kedua karena besarnya peran pemerintah dalam pendidikan, pengembangan sumber daya serta investasi yang besar dalam industri teknologi. Ketiga karena rasa nasionalisme masyarakat Korea Selatan yang begitu tinggi ditunjukkan dengan mencintai dan menggunakan produk (lokal) bangsa sendiri. Keempat karena keberpihakan pemerintah pada dunia usaha/industri dalam mengembangkan industri baik untuk pasar dalam maupun luar negeri. Sehingga kedua pihak ini bersinergi menjadikan produk-produknya mampu menguasai pasar dunia, dan yang terpenting adalah minat baca-tulis mereka tidak diragukan lagi, sebagian besar dari mereka masih menjunjung erat bahasa dan budaya mereka.

Dari contoh diatas bangsa kita patut berkaca, bangsa yang besar adalah bangsa yang berliterasi.Inilah saatnya semua elemen bangsa ikut berkontribusi. Pejabat publik harus punya jiwa melayani, bukan justru korupsi. Rakyat pun demikian, harus nyata beraksi bukan hanya minta dilayani. Begitu pula mahasiswa, kita bergerak lewat writing. Sama seperti reader dan writer yang bekerja sama membentuk meaning, rakyat dan pemerintahpun harus bekerjasama meliterasikan bangsa ini. Khususnya bagi saya dan kalian semua generasi muda Indonesia let’s say WRITING “Mode  On”.

Let’s Begin to Write Again (1st Class Review)

Class Review 1
February, 03rd 2014
Writing and Composition 4
By: Nofi Maryana

Let’s Begin to Write Again

            Writing 4. Perjalanan panjang dan menegangkan selama satu semester kedepan dimulai. Kembali bertemu dengan Mr.Lala menggugah hati dan fikiran untuk membayangkan akan apa yang akan terjadi nanti. Awalnya tak menyangka bahwa beliau akan kembali mengajar mata kuliah writing . Menyadari ini mental dan fisik harus saya persiapkan agar siap dan kuat mengikuti setiap pembelajarannya. Hari ini atau bahkan minggu ini saya masih bekerja keras mengumpulkan nyawa semester 4 ini. Memori masa liburan masih hangat terasa, membuat malas untuk belajar. Inilah hal pertama yang harus saya benahi.
            Selanjutnya ketika SAP (Satuan Acara Perkuliahan) writing 4 dan beberapa article yang mesti dibaca itu dibagikan,  hal itu kembali terjadi. Strong hearbeat. Materi apa saja yang akan menjadi makanan saya nanti, adakah aturan-aturan baru mengenai tugas, berapa banyak tugas yang akan diberikan, berapa banyak halaman yang harus saya isi dengan ukiran-ukiran indah penuh makna disetiap baris log book nantinya. Semua pertanyaan  itu layaknya sebuah fantasi sesaat saya.
            Diawal pertemuan ini, pak Lala sedikit banyaknya telah memberikan gambaran akan perjalanan satu semester kedepan bersama beliau. Wejangan-wejanganpun tak luput ia berikan. Salah satunya yakni seluruh mahasiswanya harus menyadi orang yang Resourceful. Beliau berkata bahwa kita sebagai Golden Generation PBI ini dalam konteksnya dengan Academic Writing  yang berporos pada Academic Purposesharuslah resourceful. Resourceful disini maksudnya dalam pembelajaran akademik di kampus, kita tidak harus belajar dengan dosen saja. Kita bisa saja belajar ataupun sharing lintas semester baik dengan semester atas atau bawah.
            Berbicara tentang Golden Generation yang diharapkan Mr.Lala, secara tidak langsung beliau menginginkan kita menjadi penggerak generasi lain diluar semester kita.  Dengan segudang persiapan dan usaha perubahan itu dimulai periode/saat ini juga, saat dimana kita yang menjadi pemeran utamanya. Oleh karena tujuan itu beliau kembali mengampu dan mentrainning kita lewat Writing 4 ini.
Pak Lala berkata bahwa metode beliau dalam mengajar akan berevolusi setiap waktu karena berevolusi  itu harus. Ketika jaman itu berubah maka kitapun harus berevolusi. Termasuk waktu belajar yang harus kita tingkatkan, karena sejatinya “jarak tempuh belajar lah yang membuat kita sempurna”.
            Berbeda dengan writing 1,2, dan 3, writing 4 ini dikhususkan untuk Academic Purposes. Jika di writing 1,2, dan 3 mempelajari writing  secara general tentang bagaimana membuat teks, sedangkan di writing 4 ini adalah tentang Academic Writing yang mana writing ini digunakan untuk tujuan pendidikan seperti menulis makalah, essay, skripsi, thesis, disertasi, ataupun jurnal dan sebagainya. Dalam academic writing kita sebagai penulis berperan sebagai object. Semua yang kita tulis harus bersifat objektif.
            Meskipun sekarang kita belajar writing dalam bahasa inggris,  bukan berarti kita akan  selalu menggunakan bahasa inggris dan meniadakan bahasa pertama kita. Memang sudah marak virus english-oriented dimana semua yang kita lakukan berorientasi pada bahasa inggris. Contohnya seperti english area yang ada di kampus-kampus. Apakah harus seperti itu? Apa salahnya jika kita berbicara dengan bahasa ibu kita?  Kemudian kita diharuskan membuat makalah atau essay dalam bahasa inggris. Apakah kita yakin, sedangkan menulis dalam bahasa indonesiapun tak semua orang bisa.
            Seperti yang dikatakan Hylland “Even for those who speak english as a firts language, the ability to write effectively is something that requires extensive and speialised instruction (Hylland 2003 ; Hylland 2004). “ Jadi orang-orang yang bahasa inggrisnya  sebagai L1 nya saja membutuhkan instruksi luas dan khusus, apalagi kita yang bahasa inggrisnya sebagai L2, kita pasti membutuhkan lebih banyak waktu, tenaga, pikiran, dan usaha untuk menguasainya.
Sejatinya bahasa ibu kita, bahasa indonesia (L1) adalah fondasi dari bahasa kedua kita bahasa Inggris (L2). Setidaknya jika kita menguasai menulis dalam bahasa indonesia, kita sudah mempunyai bekal untuk bisa menulis dalam bahasa inggris. Disamping itu “learning how to write in a second language is one of the most challenging aspects of second language learning (Hyland 2003), oleh karena itu kita harus tahu betul apa challenges itu agar  bisa menaklukkannya.
Menurut Mr.Lala challenges kita saat ini adalah pertama, examining how theories of writing and the teaching of writing have evolved,  contohnya bagaimana teknologi berkembang dan mempengaruhi segala aspek kehidupan termasuk menulis. Kedua,  the nature of good writing. Academic writing yang kita tahu berbeda dengan wraiting sebelumnya tentu memiliki spesifikasi sendiri tentang penulisannya. Salah satunya dan yang paling penting adalah objective serta menggunakan bahasa formal, contohnya jangan menulis " In my opinion, this a very interesting study”, tapi "This is a very interesting study." Then avoid "you" to refer to the reader or people in general. Ketiga, the nature of texts and genres and how they reflect their use in particular discourse communities.
Beberapa genre of academic writing antara lain:
1.      Essays,
2.      Reports,
3.      Case study (studi kasus),
4.      Research proposal (proposal penelitian),
5.      Book reviews (resensi buku),
6.      Brief research reports (laporan penelitian singkat),
7.      Literature  reviews (ulasan sastra),
8.      Reflective writing (menulis reflektif )
9.      Introductions (Introduksi)
10.  Research methods (metode penelitian)
11.  Research results (hasil penelitian )
12.  Research discussions (diskusi penelitian )
13.  Writing conclusions (menulis kesimpulan)
14.  Research abstracts (abstrak penelitian)
15.  Research Dissertations & Theses (Penelitian Disertasi & Theses)

Keempat,  the relationship between writing in the first and second language. Kelima, how curriculum can be developed for a writing course. Keenam, development of instructional materials for a writing class. Ketujuh, the uses of computer in writing instructions and approaches to feedback and assessment. Kesemua challenges ini harus kita cari tau jawabannya.
Writing melibatkan keterampilan dan pengetahuan tentang teks, konteks dan pembaca. Ketiganya tidak bisa dipisahkan karena saling membangun. Seorang penulis harus benar-benar memperhatikan tulisannya dengan baik. Sebelum menulis ia harus mempersiapkan tentang teks, konteks yang berupa makna dan reader yang menunjukkan untuk siapa teks itu diajukan
Tulisan yang baik, makna yang dihadirkan oleh penulis akan sampai kepada pembacanya, bisa saja terjadi missunderstanding antara makna yang dihadiekan penulis dan makna yang ditafsirkan oleh pembaca. Oleh karena itu, seperti craft atau kerajinan, menulis membutuhkan praktek dan latihan.
Academic writing yang kita pelajari  semester ini adalah critical review dan assignment essay. Critical review adalah kesempatan bagi kita untuk menganalisis isi sebuah buku atau artikel secara objektif. Apa yang penulis ungkap, siapa yang diuntungkan ataupun dirugikan oleh tulisan tersebut harus ada dalam sebuah critical review.
Jadi yang dapat saya simpulkan adalah language structure dari academic writing L2 adalah bahasa formal, fungsi teksnya adalah untuk tujuan pendidikan, proses menulisnya bisa dengan observasi, penelitian dan sebagainya. Objectivitas sangat mempengaruhi penulisan akademik.

Bumikan Indonesia Menulis

Appetizer Essay
February, 03rd 2014
Writing and Composition 4
By: Nofi Maryana

Bumikan Indonesia Menulis

Tulisan ini adalah critical review dari tiga artikel sekaligus. (Bukan) Bangsa Penulis yang diterbitkan oleh Pikiran Rakyat, 28 Februari 2012 dan Powerful Writers versus the Helpless Readers yang dipostkan oleh The Jakarta Post, 14 Januari 2012 yang keduanya ditulis oleh A.Chaedar Alwashilah, setaLearning and Teaching Process: More about Readers and Writers yang ditulis oleh C.W Watson.
            Artikel (Bukan) Bangsa Penulis secara garis besar memperlihatkan bahwa warga pendidikan baik itu mahasiswa ataupun dosen diharuskan untuk menulis. Apapun bentuk tulisannya tidak masalah asalkan yang berbau pendidikan karena dengan begitu mampu meningkatkan produktivitas bangsa ini. Ketika bapak Chaedar berkata bahwa Indonesia bukanlah bangsa penulis itu memang benar karena Indonesia juga bukan bangsa pembicara, bangsa pembicara adalah bangsa pekerja. Indonesia adalah bangsa pemikir. Segala sesustu hanya matang dipikirkan tanpa ada realisasinya. Meski gemar membacapun hanya sampai di pikiran saja, tak ada usaha untuk menuliskannya atau menyampaikannya pada orang lain.
            Kemudian, artikle kedua tentang Powerful Writers versus the Helpless Readers secara garis besar membahas kenyataan dibalik pernyataan seorang helpless reader. Penting bagi lembG pendidikan bahasa membentuk siswa yang mampu menjadi critical reader. Writing-oriented studentpun harus lebih ditekankan daripada reading-oriented student. Dalam artikel ini pula bapak Chaedar menghimbau para intelectual unt uk menulis textbook dalam bahasa indonesia
Sedangkan artikel ketiga mengungkap learning dan teaching process di IKIP Bandung (sekarang UPI) yang mana dosen bahasanya menggunakan buku yang ia bawa dari luar negeri namun tetap tidak bisa membuat mahasiswanya berbahasa inggris secara benar dan lancar.
            Sejatinya, Reading dan writing erat kaitannya. Reading adalah bekal dan fondasi dalam menulis. Semakin banyak membaca, akan lebih mudah untuk menulis. Namun kenyataan bahwa tingkat membacanya saja sudah rendah, bagaimana dengan tingkat menulisnya. Sebenarnya apa yang membuat sulitnya membaca dan menulis itu? Memang benar yang dikatakan oleh bapak Chaedar bahwa seseorang akan cenderung memilih buku yang hendak ia baca, yang sesuai dengan background dirinya. Mereka bahkan tidak tertarik pada suatu buku yang bukan seleranya, tapi itu wajar karena itu adalah haknya.
Kenyataan miris lainnya adalah indonesia memang produktif dalam mengeluarkan buku-buku tapi yang berbau novel, romance atau sejenisnya. Sedangkan buku-buku bernuansa ilmiah justru tak terlihat atau secara kasarnya memang tidak ada. Maka dari iu wajar apabila di jenjang pendidikan menggunakan buku berbahasa inggris atau asing sebagai sumber materi dan pembelajaran. Namun sangat disayangkan karena tidak jarang siswa atau mahasiswa yang tidak mengerti akan bahasa tersebut, sehingga pembelajaran bahasa inggris lebih difokuskan guna mengatasi masalah tersebut.
            Anehnya saat mahasiswa dihadapkan pada masalah tadi, sekarang mahasiswa malah dipaksa untuk menulis. Bagaimana siswa atau mahasiswa mau menulis, membaca buku saja mereka tidak mengerti karena sumber buku yang mereka gunakan berbahasa inggris. Lalu kenapa bukan buku bahasa indonesia saja yang dijadikan sumber? Sejatinya, mereka menggunakan sumer buku berbahasa inggris karena minimnya sumber buku pengetahuan bahkan tidak adanya buku pelajaran yang berbahasa indonesia.
Menulis jurnal? Mengapa harus jurnal? Jika sulit menyeleksi teks 400 halaman menjadi 15-20 halaman kenapa tidak membuat buku teks saja? Membuat buku akan lebih bermanfaat untuk pendikdikan, bukankah bapak Chaedar berkata bahwa jurnal hanya sebagai ajang silaturrahmi dan bukti kepakaran  ilmu semata. Membuat jurnal juga berarti hanya menyeleksi tulisan orang lain bukan? Memang jurnal dapat membuktikan bahwa dosen atau orang tersebut bisa menulis tapi apakah hanya itu. Jadi akan lebih baik jika seseorang yang telah membuat jurnal, yang telah menemukan rumus atau teori baru di khazanah ilmu pengetahuan juga membuat buku guna membumikan teorinya dan juga teori terbaru lainnya.
            Himbauan bapak Chaedar mengenai para dosen yang setidaknya satu tahun harus menulis jurnal atau textbook itu boleh saja, tapi yang perlu diperhatikan adalah management timenya. Jangan karena terlalu terfokus pada jurrnal atau buku tersebut lantas dosen mengabaikan tugas utamanya untuk mengajar. Biasanya dosen yang terlalu sibuk berkutat dengan jurnal atau bukunya tega menelantarkan mahasiswanya. Kemudian saya rasa bukan hanya dosen yang disarankan membuat buku atau jurnal, bisa saja guru atau dari profesi keilmuan lainnya yang berpartisipasi meningkatkan prokdutivitas buku pendidikan.
Selain peningkatan produktivitas buku pendidikan, negara kita juga butuh peningkatan critical-thinking. Critical thinking akan menghasilkan critical reading dan critical writing. Menggarisbawahi pernyataan bapak Chaedar bahwa pendidikan bahasa lebih berfokus pada reading (reading-oriented) tapi beliau setuju bahwa sebagian besar bangsa indonesia adalah helpless-reader. Jadi jika benar pendidikan bahasa kita adalah reader-oriented seharusnya kita bukanlah helpless reader,melainkan critical reader.
Ketika critical reader tidak mengerti akan apa yang ia baca, ia bisa saja berpendapat bahwa penulisnya yang tidak berkompeten. Namun, seorang critical writer berpendapat bahwa semua penulis pasti benar karena tulisan itu adalah tulisannya. Semua yang ia tulis adalah apa yang menurut ia benar dan yang ia cari tau sendiri kebenarannya. Jadi pantas apabila penulis berkata bahwa ia selalu benar. Oleh karena itu critical review hadir sebagai titik temu antara keduanya.
Dalam artikel ketiga penulis mengatakan bahwa proses belajar mengajar di Indonesia tidak sempurna karena syllabus dan sistem ujian yang salah. Contohnya mana mungkin hasil belajar 3 tahun baik di SMA atau SMP dapat diukur hanya dengan 3 hari Ujian Nasional. Hal ini sangat tidak objektif. Begitupula dengan reading dan writing literature. L1 adalah fondasi L2. Ketika mahasiswa hanya diberi asupan buku L2 saja, tentu mereka akan sulit untuk mencernanya. Namun apabila mereka diberikan asupan buku dalam L1 dan L2 tentu kemungkinan mereka mengerti akan jauh lebih besar karena L1 dan L2 seimbang.
Kenyataannya kembali lagi ke lapangan, tidak tersedianya buku-buku pendidikan berbahasa indonesia, membuat mereka tidak punya jalan lain selain menggunakan buku berbahasa inggris. Oleh sebab itu keberadaan profesor-profesor, para intelektual serta petinggi akademik indonesia mampu membuat dan mengeluarkan buku pendidikan berbahasa indonesia.

Kesimpulan yang dapat diambil dari ketiga artikel ini diantaranya, pertama artikel ini sangat bagus guna memotivasi warga pendidikan tentang pentingnya menulis. Kedua, tujuan penulis baik terhadap dosen, mahasiswa atau golongan lain sudah tercapai dengan baik. Hanya saja pada artikel ketiga tersebut penulis tidak seimbang dalam memberikan contoh-contoh atau penjelasan pendukung, seperti pernyataan bahwa mahasiswa diberikan buku yang dibawa oleh dosennya dari luar negeri. Penulis tidak membahas atau menjelaskan  bagaimana komentar atau sudut pandang para mahasiswa tersebut mengenai hal itu.

Thursday, November 29, 2012

"GRENADE" by Bruno Mars

bruno mars - grenade


According to me, This song tells the struggle of a man to tell his girlfriend that he would do anything for him, including the piano he had to drag so far to reveal the contents of his heart by singing a song for her. The other people have warned him not to too overwhelming for his feelings to his girlfriend, but he seemed not want to know about it. But seeing his girlfriend with another man, he was desperate and he eventually committed suicide hit by a train.
According to me the content of this song is nice, easylistening, and the message from the song can delivered very well by the video (MV).


you can watch the video in:
http://www.youtube.com/watch?v=SR6iYWJxHqs

and you can also get the lyric from:
http://www.directlyrics.com/bruno-mars-grenade-lyrics.html

Monday, November 19, 2012

The Best Dream High 1





Assalamu'alaikum wr.wb...
안녕 하세요 친구...
Hi Friends...
Long time not post anything in my blog. Now i want to post again^^, this is about review, movie review. And my choice fell on “Dream High 1”. Come on, let’s begin…

 

     Title: 드림하이 / Dream High

Genre: Romance, Comedy, Musical
Buy:
Amazon

Episodes: 16
Broadcast network: KBS2
Broadcast period: 2011-Jan-03 to 2011-Feb-28


Production Companies: KeyEast, JYPE, and CJ Media
Producer:
Bae Yong Joon, Park Jin Young
Director: Lee Eung Bok
Screenwriter: Park Hye Ryun

Cast
Suzy as Go Hye Mi
Kim Soo Hyun as Song Sam Dong
Taecyeon as Jin Gook / Hyun Shi Hyuk
Ham Eun Jung as Yoon Baek Hee
Wooyoung as Jason
IU as Kim Pil Sook

 

Dream High 1 is one of comedy romance Korean drama. Starred by famous star top series of Korean music world. Like Suzy (vocalist of girl band Miss A), Taecyeon and Wooyoung (boy band members of 2pm), Ham Eun Joong (girl band member of T-ara), IU (actress and solo singer), Kim Soo Hyun (actor and solo singer). Production companies of Dream High 1 are KeyEast, JYPE and CJ media. Producered by Bae Yong Joon, Park Jin Young. Directored by Lee Eung Bok. Screenwrited by Park Hye Ryun.

Dream High 1 consist of 16 episodes that interest full of love romance, comedy even motivation. Tells the 6 student of Kirin Art School who strive to attain and achieve a dream, their “Dream High” to be a star in Korean music world. Tell about a woman named Go Hye Mi (Suzy), which very gifted student in classical music, but she got a big trial in her family life. After she pays off her family debts, she remove off her dream and begin to try pop music and go to Kirin Art School that also because the contract by creditor. The beautiful girl, haughty, flat and hadn’t expression, arrogant and stubborn tasted in living her life and be the best by changed her bad nature and her bad character.

 
Go Hye Mi was tasted with the loss of friendship that has been built for long time, because of the competition in terms of music. She experienced a lot of hurdles and obstacles. But she is Go Hye Mi, she able to deal with any problem strongly and powerfully. Hard struggling with all of her ability. She is great. It is proper to imitated.


Yoon Baek Hee (Eun Joong) is Go Hye Mi’s loyal friend, but because he was dumped by Hye Mi, he became stronger. She became her enemy and her rival. Since she having a lucky necklace who given by presdir Jung Ha Myung when she was in test to entered Kirin, her life begin change. Her kind heart turned 180 degrees because of her obsession in her carrier and herself egoism. Her appearance also changed. Everything and every way she did to defeat her rivals. She likes Jin Gook.

 
Song Sam Dong (Kim Soo Hyun) is a man from the countryside who has singing talent from his father. He is a motivation source in this drama. He has big dream and also big trial. He has big dream to be a Korean music star. But he also must get trial, he lost his sense of hearing because his family’s hereditary disease. When he can’t feel the music and sounds he had felt despair, but for the sake of his dream made him back up and finally he can attain his biggest dream be a famous artist on Gramy awards in America. *he loves Hye Mi although he doesn’t say it. Who most i remember, he ever said to Jin Gook, “I don’t care who will Hye Mi choose, but I never give her to you”.

 
Hyun Shi Hyuk/Jin Gook (Taecyeon) He is an illegitimate child of a political figure that are hidden from the public for the continuation of his career. But he was so obedient and loved his father. He has talent in dancing and singing. He is also Hye Mi’s childhood friend. He liked and loved Hye Mi. when Hye Mi together with him, her bad temper, selfish and arrogant as missing. Somehow, Jin Gook always able to calm her anger and her selfishness just with a kind words. He indeed good, although his love unrequited. But I still prefer Sam Dong.


Kim Pil Sook (IU) is a woman who has a very melodious voice in singing, but because she is fat and ugly. Something she experienced failures in achieving her dream. But she never discouraged, because she had another motivation. You know? Yes, that is love. She is a huge fan of Jason. Because a great motivation and passion she managed to lose weight from 86 kg being thin and beautiful. She good at playing the guitar, and could create tone.


Jason (Wooyoung) is a student who have exceptional talent, he is no 1 in Kirin Art School, he from abroad. He was the student who loved and admired Kim Pil Sook woman weighing 86 kg, but did you know friends? The number one student in Kirin Art School was also like Kim Pil Sook. *great*.

jason ~ dream high 1 "even for someone who does not look special, but she has the perfection of a woman". Nice story^^

          The struggle and the vagaries life of these six students takes them into a very valuable life lessons and change themselves into manhood that took them to the summit of success. By reach their big dreams, they made a group called Dream High. Although in the end they won their own careers, but the dream high is an important part of them all, learn to share, learn to dream, learn to fight and learn to gain maturity.

 
In this drama also found a motivation thing (can give suggestion to keep spirit and fight), there is a necklace, K-shaped necklace who given by presdir Kirin Art School, Jung Ha Myung.


First time I watch this drama, I very interest because there are many K-POP artist. And absolutely they are good looking. Aren’t they? After I finish watch it, I think the terms of story is good. Full of motivations. Especially for us as student who want to reach our dreams. We can also find many beautiful songs in this drama.
My favorite songs in this drama are Dreaming, Dream High and Only Hope. And i also have a fovorite scene, that is when Sam Dong are sing in Showcase and he loss his hearing, he wants to give up but Hye Mi comes and she gives some tone clues for Sam Dong so he can continue his song. here the scene:

 
 

If you haven't watch this korean drama, let's watch! I assure you will not regret after watch this drama. This drama full of motivation and actual values of friendship. Although in this drama there is some kiss scenes, it was not shown so clearly.
So let's watch! you can to buy the CD in CD store or you can download it from youtube.