Sunday, March 09, 2014

Literacy Wave (3rd Class Review)

Literacy Wave

Pernah mendengar istilah “Korean Wave?” ya, itu adalah istilah yang digunakan untuk tersebarnya budaya pop-korea secara global ke seluruh penjuru dunia. Oleh karenanya, Literacy wave. Istilah yang saya berikan khusus untuk mendeskripsikan tersebarnya budaya literasi secara global di berbagai negara di dunia termasuk indonesia bahkan PBI semester 4 IAIN SNJ Cirebon.
Di PBI semester 4 IAIN SNJ Cirebon sendiri, rating literasi semakin hari semakin memunculkan eksistensinya, bahkan kini literasi mencapai rating tertinggi dalam deretan tangga wacana yang paling sering dibicarakan sejurusan PBI. Sejatinya seperti yang dikatakan oppa Hylland bahwa ‘literacy is something we do’.
Sedikit membahas tentang  pembahasan minggu kemarin atas tulisan bapak Prof. Chaedar Al-Wasilah dalam salah satu bukunya yakni Rekayasa Literasi. Menurut beliau literasi merupakan praktek budaya yang berkaitan tak hanya dengan persoalan politik, namun juga persoalan sosial, ekonomi, bahkan psikologi. Praktek budaya semacam ini lama-kelamaan akan membentuk sebuah peradaban, peradaban literasi.
Sebuah negara dikatakan sebagai negara yang berperadaban adalah ketika negara tersebut mampu memakmurkan warga negaranya (bengsa yang kaya), tingkat keamanannya tinggi, dan tingkat kenyamanannya terjamin atau dengan kata lain negara yang berperadaban adalah negara yang seimbang baik secara ekonomi, sosial, politik bahkan psikologinya dan yang paling penting adalah negara yang high literate.
Seiring berkembangnya jaman yang semakin menggila ini, menuntut literasi untuk terus mengembangkan definisinya sehingga tuntutan mengenai perubahan pengajaranpun tak terelakkan lagi. Dalam tulisannya beliau juga menjelaskan tentang model literasi yang populer ala Freebody and Luke (2003) dimana : breaking the codes of texts; participating in the meanings of text; using texts functionally; critically analysing and transforming texts. Kemudian beliau meringkas lima ayat diatas menjadi: memahami, melibati, menggunakan, menganalisis, mentransformasi.
Masih seputar literasi, menurut beliau rujukan literasi dalam dunia pendidikan tak henti-hentinya berevolusi dari masa ke masa, sedangkan disisi lainnya rujukan linguistik relatif konstan atau statis. Akibatnya praktek studi literasi tumpang tindih (overlapping) dengan objek studi budaya (cultural studies) dengan dimensinya yang sangat luas. Menanggapi kasus semacam ini, dibutuhkan peran aktif pemerintah sebagai pengambil keputusan tertinggi seyogyanya mampu menciptakan pendidikan yang berkualitas tinggi, karena sejatinya pendidikan yang berkualitas tinggi akan mengasilkan literasi berkualitas tinggi pula, begitupun sebaliknya.
Berbicara mengenai pendidikan berkualitas tak lepas kaitannya dengan peran serta GURU. Dituliskan pula oleh bapak Chaedar bahwasanya ujung tombak pendidikan literasi adalah GURU dengan fitur: komitmen profesional, komitmen etis, strategi analitis dan reflektif, efikasi diri, pengetahuan bidang studi, dan keterampilan literasi dan numerasi (Cole dan Chan 1994). Oleh karena itu penting bagi seorang guru mengajarkan dan mengaplikasikan empat pokok pelajaran: Reading, writing, arithmetic, and reasoning sebagai bekal modal hidup mereka dimasa depan.
Keempat pokok pelajaran ini, jika tersampaikan secara sempurna maka akan menghasilkan siswa yang mempunyai cita rasa literasi atau berliterat karena orang yang multiliteratlah yang mampu berinteraksi dalam berbagai situasi, namun sebaliknya bagi mereka yang tidak literat tidak mampu memahami bagaimana hegemoni itu diwacanakan lewat media masa.
Jika Prof. Chaedar sibuk merekayasa litersinya, sebagian dari kita pasti sibuk dengan sesuatu yang direkayasa beliau. Ya, sebenarnya apa sih yang direkayasa itu? Literasi? Rekayasa literasi itu, yang direkayasa apanya? Sejatinya rekayasa literasi itu adalah merekayasa pengajaran membaca dan menulis dalam empat dimensi rekayasa literasi: linguistik, kognitif, sosiokultural, dan perkembangan. Karena pengertian dari Rekayasa literasi itu sendiri adalah upaya yang disengaja dan sistematis untuk menjadikan manusia terdidik dan berbudaya lewat penguasaan bahasa secara optimal.
Menggarisbawahi penguasaan bahasa secara optimal, Hyland berpendapat: “academic literacy emphasizes that the ways in we use language, referred to as literacy practices, are patterned by social institution and power relationships.” Menurutnya berbahasa adalah berliterasi -literacy as an activity located in the interactions between people, Hamilton (1998), as cited in Hyland (2006: 21). Oleh karenanya lewat keberhasilan akademis berarti repersenting yourself in a way valued by your discipline, adopting the values, beliefs, and identities which academic dissourse embody. Singkatnya literasi sudah masuk kedalam berbagai aspek kehidupan manusia yang ditandai dengan merebaknya Literasi wave.
Salah satu jalur yang dilalui oleh literasi wave adalah academic writing. Seperti yang dikutip oleh bapak Chaedar dari Michael Barber “In the 21st century, world class standards will demand that everyone is highly literate, highly numerate, well informed, capable of learning constantly, and confident and able to play their part as citizen of a democratic society.” Oleh karenanya pembelajaran academic writing harus diajarkan seuai standar high literate agar mahasiswa mampu bersaing di kancah dunia sekarang ini.
Persiapan pertama adalam mengetahui elemen-elemen dasar academic writing yang mana berbeda dengan writing context lainnya. Elemen academic writing menurut pak Lala ada 9.
1.      Cohesion       : the smooth movement or “flow” between sentences and paragraphs. Intinya kohesi harus ada untuk menghubungkan kalimat dengan kalimat selanjutnya atau kalimat dengan parangrap setelah dan sebelumnya agar tidak merjadi diintegrasi makna.
2.      Clarity            : the meaning of what you are intending to communicate is perfectly clear. Penggunaan bahasa yang tepat, tidak berbelit, serta tidak melebar ataupun keluar dari topik agar makna yang dimaksud tersampaikan dengan baik. Untuk meningkatkan kejelasan tulisan, bisa gunakan kalimat deskriptif atau gunakan referensi yang jelas.
3.      Logical Orderrefers to a logical ordering of information. In academic writing, writers tend to move from general to specific. Singkatnya kronologi ide paragraf, penempatan setiap paragraf harus tersusun dengan rapih dan berurutan.
4.      Consistency  : Consistency refers to uniformity of writing style. Pemilihan style dalam menulis perlu diperhatikan. Gunakan hanya satu style, jika ingin menjabarkan tulisan anda dengan deskriptif maka harus gunakan structure dari teks deskriptif.
5.      Unity              : At its simplest, unity refers to the exclusion of information that does not directly relate to the topic being discussed in a given paragraph. Semua yang berada dalam paragraf berkaitan dengan ide pengendali. Penulis yang baik
6.      Conciseness  : Conciseness is economy in the use of words. Tulisan yang baik akan dengan modah diambil poin-poinnya dan menghilangkan kata yang tidak dibutuhkan serta tidak perlu pengulangan (pemborosan kata, or “dead word.”)pemberian informasi yang tidak penting akan mempengaruhi unity dan cohesion.
7.      Completeness    : While repetitive or unnecessary information must be eliminated, the writer has to provide essential information on a given topic.     
For example, in a definition of chicken pox, the reader would expect to learn that it is primarily a children’s disease characterized by a rash. Ketika pemborosan kata harus dihilangkan maka penulis harus menyediakan informasi yang esensial sebagai topik.
8.      Variety           : Variety helps the reader by adding some “spice” to the text. Bumbu-bumbu penyedap boleh ditambahkan pada tulisan agar tulisan berwarna dan tidak monoton.
9.      Formality       : Academic writing adalah ranah formal yang berarti sophiticated vocabulary dan struktur gramatikalnya patut digunakan. Tambahan: perlu hindari pemakaian pronoun “I” karena mengindikasikan bahwa tulisan itu bersifat subjektif.
Jadi yang dapat disimpulkan dari pembahasan diatas adalah, pertama literasi sudah menjadi sesuatu yang pokok dalam kehidupan, baik ketika berbahasa atau beraktifitas sehari-hari. Sudah sepatutnya generasi muda melek literasi agar mampy bersaing di masa sekarang ataupun masa yang akan datang. Kedua, dalam mempelajari academic writing perlu sadar akan elemen-elemen penyusunnya terlebih dahulu karena kita tidak bisa membangun tanpa pondasi.

Lebih banyak orang yang merasa dekat dengan budaya lliterasi
maka pelan-pelan akan memunculkan

Sense of belonging terhadap literasi itu sendiri.

Writing “Mode On” (2nd Class Review)

Writing “Mode On”

Lagi lagi literasi dan memang harus literasi. Sedikit membuka class review kali ini dengan menyadarkan bangsa kita agar meningkatkan praktek literasi. Muak dengan berbagai komenan dan cacian mereka yang menyalahkan bangsa sendiri ketimbang bahu membahu membangun bangsa dengan menumbuhkan benih-benih praktek literasi saat ini juga. Ya, salah satunya adalah menulis. Saya tidak akan berkoar-koar menyuluhkan untuk membaca atau menulis. Saya akan mencoba lewat dunia saya ini, membantu MENULIS, menanamkan benih kecil praktek literasi.
Sebelum kita menyantap main course, kita santap appetizernya dulu. Mengulas sedikit highlight besar materi minggu lalu diantaranya;  pertama,  kiblat writing 4 adalah academic writing yang otomatis akan belajar menulis ilmiah (scientific writing). Kedua, critical thinking. It means that you will take a text for granted. Ketika critical reader dihadapkan dengan sebuah teks atau informasi, ia tidak akan menelan mentah-mentah semua teks itu. Perlu diingat semua teks dibuat untuk suatu tujuan. Tidak jarang apabila sebuah teks diragukan kebenarannya karena salahnya informasi yang dibawanya. Critical thinking membuat pembaca berhat-hati dalam mengambil keputusan.
Ketiga, how students of language become students of writing. Seseorang belajar bahasa, otomatis ia akan belajar semua aspek kebahasaan termasuk writing, namun kenyataannya tidak semua yang pandai berbahasa juga pandai dalam menulis. Keberadaan writing sebagai salah salah bentuk literasi tertinggi –lingkup baca tulis- menjadikannya tolak ukur seseorang menguasai bahasa. Oleh sebab itu jelas apabila menulis itu tidak boleh sembarangan. Diperlukan pembelajaran yang khusus dan latihan yang intens untuk  menguasainnya.
Lezatnya appetizer telah kita rasakan, selanjutnya giliran main course kita hari ini. Main coursekita masih seputar writing namun dengan cita rasa yang berbeda. Menulis sebagai salah satu bentuk meditasi dimana ketika seseorang menulis, bukan hanya tangan atau jari-jari yang bekerja tapi semua anggota tubuh ikut berpartisipasi.  Ketika menulis otak berfikir menemukan ide dan merangkainya menjadi kata, kemudian mulut turut merespon dengan melafalkannya. Hatipun berperan dalam mengkorelasikan kata dengan makna, setelah itu giliran tangan yang mengukir hasil proses tadi menjadi sebuah karya indah bernama tulisan. Jadi, pantas apabila menulis dikatakan literasi tingkat tertinggi.
Selain writing itu tidak mudah, writing juga kompleks karena ia terikat dengan hal lainnya, antara lain:
1.      Writing is the way of knowing something
2.      Writing is the way of representing something
3.      Writing is the way of reproduce something.
Writing is the way of knowing something. Ketika hendak menulis, penulis biasanya akan mencari beberapa data seperti materi yang berkaitan dengan tulisannya dan pendekatan apa saja yang akan digunakan. Pencarian itu dilakukan dengan membaca, lewat itulah seorang penulis memperoleh informasi sehingga membuat mereka mengetahui banyak hal. Seperti contoh, me as an author and Mr.Lala as a reader. Jadi sebelum saya menulis saya harus mengetahui terlebih dahulu buku apa saja yang beliau sudah baca, pengetahuan apa saja yang sudah beliau miliki, bagaimana cara berfikir beliau. Dengan begitu saya bisa memaksimalkan tulisan saya sesuai selera beliau.
Selanjutnya writing is the way of representing something. Kegiatan menulis berarti pasti menghadirkan atau menyuguhkan sesuatu. Dengan menulis, penulis menyampaikan informasi yang didapatnya dari proses membaca ataupun pengalaman. Sebuah tulisan pasti mewakili keadaan penulisnya, hal ini dapat dilihat dari segi isinya, penggunaan kosakata dan bahasa serta sudut pandang (voice) sang penulis.
Kemudian, writing is the way of reproduce something. Jangan kira kegiatan menulis hanya sebatas menuangkan ide, lebih dari itu seseorang menghasilkan banyak hal dengan menulis. Dari lingkup terkecil seperti memproduksi kata dan seni hingga lingkup paling luasnya seperti memproduksi pengetahuan, pengalaman bahkan penghasilan. Mengapa? because you can make anything by writing (C.S Lewis).
Jadi dapat disimpulkan bahwa
Information (input) à Knowledge (proses)  à Experience (output).
Menulis berarti mengimput informasi terutama bagi penulis itu sendiri, kemudian informasi itu diproses bersama pengetahuan lainnya dan menghasilkan output berupa experience yang tidak mungkin didapat tanpa mengalaminya sendiri. Pada kegiatan ini, yang ditekankan adalah experiencenya karena experience ini adalah saat dimana seseorang menikmati sebuah informasi. Apabila kualitas rekamannya (proses) baik  maka kualitas ingatannya pun akan baik.
Sebagai mahasiswa yang belajar bahasa asing, secara jelas Mr. Lala said that when we write in more than one language, it means that we are exclusive because multilingual writer is exclusive. In his ownperspective we are A MULTILINGUAL WRITER, who writes effectively in L1 and L2; who serves as a critical reader both in L1 and L2; who transforms ourself from a student of language into a student of writing; who can make informed choices in life; who can change the world. So, it is depend on how we use our coil of energy – L1 and L2 - maximally.
Kembali ke pokok pembahasan, dalam bukunya Hyland berkata bahwa menulis merupakan suatu praktek yang didasarkan pada keinginan pembaca. Kemungkinan pembaca akan dengan mudah menafsirkan maksud penulis, ketika penulis dapat mengantisipasi apa yang mungkin pembaca harapkan. Biasanya pembaca mengharapkan bahwa tulisan tersebut tidak berbeda jauh dengan apa yang telah dibaca sebelumnya. Oleh karena itu penting bagi penulis mengetahui backround pembaca guna memaksimalkan keinginannya.
Kaitannya dengan writing, seorang penulis tidak bisa dikatakan penulis ketika tidak ada pembaca. Oleh karenanya Hoey mendeskripsikan keduanya seperti hubungan seni. Layaknya sebuah tarian, writer dan reader berpasangan saling melengkapi satu sama lain, menyamakan langkah agar seirama dan bekerja sama membangun makna. Jadi writer dan reader membangun koneksi lewat pemaknaan text (meaning formation), karena sejatinya makna tidak terjadi atas teks melainkan berdasar sudut pandang seorang reader.
Memang sulit untuk menjadi seorang writer, namun akan jauh lebih sulit menjadi seorang reader. Mengapa demikian? Mr.Lala berkata bahwa writer itu kerjanya hanya menulis, setelah itu tidak ada lagi yang iakerjakan. Nasib tulisan writer pun bergantung pada reader karena reader yang menentukan apa yang ia akan baca. Namun tidak dengan Gay Cook, ia mengatakan bahwa “ahli bahasa mengkarakteristikan situasi bahasa dalam konteks. Kamu sebagai pembaca tidak melihat aku sebagai penulis, apa yang aku lakukan ketika menulis, kamu sebagai pembaca hanya bisa menikmati hasil dari informasi-informasi yang saya tulis. Kamu sebagai pembaca Hanya tahu apa yang diinformasikan apa yang dikoneksikan, sebagai individu yang mempresentasikan sendiri hasil tulisan dari penulis.” Jadi menurut beliau apa yang dilakukan oleh penulis, itu pembaca tidak akan tahu.
Menengahi keduanya bahwa baik posisi writter ataupun reader sama-sama pentingnya, karena reader juga berperan penting, ia yang menghidupkan ruh-ruh tulisan serta mengawinkan makna yang dimaksud penulis dan makna yang ia bentuk sendiri. Oleh karena itu negosiasi makna akan terus terjadi di posisi reader. Reader berhak sepenuhnya atas teks yang ia baca, jika readernya kritis teks akan bertahan lama karena informasi itu terus berlanjut, tapi apabila readernya biasa-biasa saja maka teks tersebut mati sampai diasana karena konteks sebagai benda yang mati. Maka dari itu Barthes mengatakan bahwa kehadiran pembaca menandakan kematian penulis.
Dalam menulis kita dihadapkan dengan teks, context, reader, writer dan meaning. Di sini akan dibahas kembali mengenai hubungan antara text, context, reader, writer dan meaning. Berdasarkan buku “The Cultural Analysis of Text” oleh Mikko Lehtonen menjelaskan bahwa dimensi teks itu dibagi dua.
1.       Text as pysical being
Dimana teks merupakan bentuk fisik sebuah informasi atau artefak komunikasi. Teks yang dimaksud tidak hanya hasil tulisan tangan semata tetapi juga yang diproduksi oleh teknologi.
2.      Text as semiotic being
Dimana teks melambangkan suatu simbol dan didalamnya memiliki karakteristik materiality, formal relations and meaningfulness.
Text dan reader menghasilkan satu sama lain dalam arti masing-masing tidak bisa berdiri sendiri. Keduanya dihubungkan dengan kegiatan membaca (reading) dan bersama-sama membentuk makna serta membawa pengetahuan pembaca ke dalam teks. Dengan kata lain teks disuguhkan dan dibawa oleh writersedangkan conteks ada pada  reader  dan diantara keduanya terdapat meaningitulah koneksinya.
Meaning antara reader dan writer tidak selalu berjalan searah,  tidak jarang meaning gagal terbangun dan terjadi missunderstanding. Mengapa demikian? Experience. Keduanya kadang kala mempunyai experience yang berbeda atau tidak sesuai satu sama lain. Bila disuruh mengkritisi keduanya harus mengetahui background masing-masing.
Sedikit berbicara dari kubu yang berbeda dengan bapak Chaedar, disana ada bapak Hawe Setiawan yang mengungkapkan argumennya melalui artikel berjudul Belajar Membaca. Menurutnya masyarakat Indonesia sudah sangat kritis karena mampu ambil bagian dalam kemajuan informasi komunikasi secara langsung lewat internet. Hawe berargumen bahwa menulis kritis tidak hanya terjadi saat kita menulis formal, di dunia mayapun kita bisa menulis kritis seperti menulis status atau berkomentar, berawal dari situ sedikit demi sedikit akan terbiasa untuk menulis. Hal ini bertolak belakang dengan argumen bapak Chaedar yang notabene mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak kritis dan juga statis. Dalam bukunya yang berjudul Pokoknya RekayasaLiterasi ia hanya menyoroti menulis dalam konteks formal saja.
Ya, akhirnya lengkap sudah jamuan kita hari ini, menu lengkap tersedia dari appetizer, main course hingga desert. Jadi yang bisa saya simpulkan adalah writing sebagai praktek literasi sejatinya memang harus dibiasakan. Pendidikan literasi (baca-tulis) bangsa kita masih terpuruk, oleh karenanya kunci kesuksesan negara lain tidak ada salahnya kita contoh. Banyak negara yang besar karena praktek literasinya, katakanlah Korea Selatan, Jepang, Prancis, Australia, dan lainnya.
Sebagai contoh Korea Selatan. Mengapa saya mengambil korea selatan sebagai contoh? KarenaSejatinya, Korea Selatan dan Indonesia sama-sama terbebas dari penjajahan Jepang pada tahun 1945. Ya, hanya selisih beberapa hari saja. Tepatnya, dua hari setelah Korea Selatan merdeka, Indonesia pun memproklamirkan diri sebagai republik. Kondisi perekonomian yang morat marit, manajemen pemerintahan yang rawan konflik, kualitas sumberdaya manusia yang rendah hingga munculnya konflik kepentingan mewarnai perjalanan kedua republic pasca kemerdekaan.
Namun, negeri Korea yang minim sumberdaya alam mampu meninggalkan jauh Indonesia. Setidaknya, kemajuan yang ditunjukkan Korea Selatan pada dunia selama ini dapat diambil pelajaran. Diantaranya; pertama karena Bangsa Korea Selatan berjuang mati-matian untuk memajukan bangsanya agar dapat menyalip negara  yang pernah menjajahnya yakni Jepang atau Negara-negara yang pernah melecehkannya seperti Amerika. Kedua karena besarnya peran pemerintah dalam pendidikan, pengembangan sumber daya serta investasi yang besar dalam industri teknologi. Ketiga karena rasa nasionalisme masyarakat Korea Selatan yang begitu tinggi ditunjukkan dengan mencintai dan menggunakan produk (lokal) bangsa sendiri. Keempat karena keberpihakan pemerintah pada dunia usaha/industri dalam mengembangkan industri baik untuk pasar dalam maupun luar negeri. Sehingga kedua pihak ini bersinergi menjadikan produk-produknya mampu menguasai pasar dunia, dan yang terpenting adalah minat baca-tulis mereka tidak diragukan lagi, sebagian besar dari mereka masih menjunjung erat bahasa dan budaya mereka.

Dari contoh diatas bangsa kita patut berkaca, bangsa yang besar adalah bangsa yang berliterasi.Inilah saatnya semua elemen bangsa ikut berkontribusi. Pejabat publik harus punya jiwa melayani, bukan justru korupsi. Rakyat pun demikian, harus nyata beraksi bukan hanya minta dilayani. Begitu pula mahasiswa, kita bergerak lewat writing. Sama seperti reader dan writer yang bekerja sama membentuk meaning, rakyat dan pemerintahpun harus bekerjasama meliterasikan bangsa ini. Khususnya bagi saya dan kalian semua generasi muda Indonesia let’s say WRITING “Mode  On”.

Let’s Begin to Write Again (1st Class Review)

Class Review 1
February, 03rd 2014
Writing and Composition 4
By: Nofi Maryana

Let’s Begin to Write Again

            Writing 4Perjalanan panjang dan menegangkan selama satu semester kedepan dimulai. Kembali bertemu dengan Mr.Lala menggugah hati dan fikiran untuk membayangkan akan apa yang akan terjadi nanti. Awalnya tak menyangka bahwa beliau akan kembali mengajar mata kuliah writing . Menyadari ini mental dan fisik harus saya persiapkan agar siap dan kuat mengikuti setiap pembelajarannya. Hari ini atau bahkan minggu ini saya masih bekerja keras mengumpulkan nyawa semester 4 ini. Memori masa liburan masih hangat terasa, membuat malas untuk belajar. Inilah hal pertama yang harus saya benahi.
            Selanjutnya ketika SAP (Satuan Acara Perkuliahan) writing 4 dan beberapa article yang mesti dibaca itu dibagikan,  hal itu kembali terjadi. Strong hearbeat. Materi apa saja yang akan menjadi makanan saya nanti, adakah aturan-aturan baru mengenai tugas, berapa banyak tugas yang akan diberikan, berapa banyak halaman yang harus saya isi dengan ukiran-ukiran indah penuh makna disetiap baris log book nantinya. Semua pertanyaan  itu layaknya sebuah fantasi sesaat saya.
            Diawal pertemuan ini, pak Lala sedikit banyaknya telah memberikan gambaran akan perjalanan satu semester kedepan bersama beliau. Wejangan-wejanganpun tak luput ia berikan. Salah satunya yakni seluruh mahasiswanya harus menyadi orang yang Resourceful. Beliau berkata bahwa kita sebagai Golden Generation PBI ini dalam konteksnya dengan Academic Writing  yang berporos pada Academic Purposesharuslah resourceful. Resourceful disini maksudnya dalam pembelajaran akademik di kampus, kita tidak harus belajar dengan dosen saja. Kita bisa saja belajar ataupun sharing lintas semester baik dengan semester atas atau bawah.
            Berbicara tentang Golden Generation yang diharapkan Mr.Lala, secara tidak langsung beliau menginginkan kita menjadi penggerak generasi lain diluar semester kita.  Dengan segudang persiapan dan usaha perubahan itu dimulai periode/saat ini juga, saat dimana kita yang menjadi pemeran utamanya. Oleh karena tujuan itu beliau kembali mengampu dan mentrainning kita lewat Writing 4 ini.
Pak Lala berkata bahwa metode beliau dalam mengajar akan berevolusi setiap waktu karena berevolusi  itu harus. Ketika jaman itu berubah maka kitapun harus berevolusi. Termasuk waktu belajar yang harus kita tingkatkan, karena sejatinya “jarak tempuh belajar lah yang membuat kita sempurna”.
            Berbeda dengan writing 1,2, dan 3, writing 4 ini dikhususkan untuk Academic Purposes. Jika di writing 1,2, dan 3 mempelajari writing  secara general tentang bagaimana membuat teks, sedangkan di writing 4 ini adalah tentang Academic Writing yang mana writing ini digunakan untuk tujuan pendidikan seperti menulis makalah, essay, skripsi, thesis, disertasi, ataupun jurnal dan sebagainya. Dalam academic writing kita sebagai penulis berperan sebagai object. Semua yang kita tulis harus bersifat objektif.
            Meskipun sekarang kita belajar writing dalam bahasa inggris,  bukan berarti kita akan  selalu menggunakan bahasa inggris dan meniadakan bahasa pertama kita. Memang sudah marak virus english-oriented dimana semua yang kita lakukan berorientasi pada bahasa inggris. Contohnya seperti english area yang ada di kampus-kampus. Apakah harus seperti itu? Apa salahnya jika kita berbicara dengan bahasa ibu kita?  Kemudian kita diharuskan membuat makalah atau essay dalam bahasa inggris. Apakah kita yakin, sedangkan menulis dalam bahasa indonesiapun tak semua orang bisa.
            Seperti yang dikatakan Hylland “Even for those who speak english as a firts language, the ability to write effectively is something that requires extensive and speialised instruction (Hylland 2003 ; Hylland 2004). “ Jadi orang-orang yang bahasa inggrisnya  sebagai L1 nya saja membutuhkan instruksi luas dan khusus, apalagi kita yang bahasa inggrisnya sebagai L2, kita pasti membutuhkan lebih banyak waktu, tenaga, pikiran, dan usaha untuk menguasainya.
Sejatinya bahasa ibu kita, bahasa indonesia (L1) adalah fondasi dari bahasa kedua kita bahasa Inggris (L2). Setidaknya jika kita menguasai menulis dalam bahasa indonesia, kita sudah mempunyai bekal untuk bisa menulis dalam bahasa inggris. Disamping itu “learning how to write in a second language is one of the most challenging aspects of second language learning (Hyland 2003), oleh karena itu kita harus tahu betul apa challenges itu agar  bisa menaklukkannya.
Menurut Mr.Lala challenges kita saat ini adalah pertama, examining how theories of writing and the teaching of writing have evolved,  contohnya bagaimana teknologi berkembang dan mempengaruhi segala aspek kehidupan termasuk menulis. Kedua,  the nature of good writing. Academic writing yang kita tahu berbeda dengan wraiting sebelumnya tentu memiliki spesifikasi sendiri tentang penulisannya. Salah satunya dan yang paling penting adalah objective serta menggunakan bahasa formal, contohnya jangan menulis " In my opinion, this a very interesting study”, tapi "This is a very interesting study." Then avoid "you" to refer to the reader or people in general. Ketiga, the nature of texts and genres and how they reflect their use in particular discourse communities.
Beberapa genre of academic writing antara lain:
1.      Essays,
2.      Reports,
3.      Case study (studi kasus),
4.      Research proposal (proposal penelitian),
5.      Book reviews (resensi buku),
6.      Brief research reports (laporan penelitian singkat),
7.      Literature  reviews (ulasan sastra),
8.      Reflective writing (menulis reflektif )
9.      Introductions (Introduksi)
10.  Research methods (metode penelitian)
11.  Research results (hasil penelitian )
12.  Research discussions (diskusi penelitian )
13.  Writing conclusions (menulis kesimpulan)
14.  Research abstracts (abstrak penelitian)
15.  Research Dissertations & Theses (Penelitian Disertasi & Theses)

Keempat,  the relationship between writing in the first and second language. Kelima, how curriculum can be developed for a writing course. Keenam, development of instructional materials for a writing class. Ketujuh, the uses of computer in writing instructions and approaches to feedback and assessment. Kesemua challenges ini harus kita cari tau jawabannya.
Writing melibatkan keterampilan dan pengetahuan tentang teks, konteks dan pembaca. Ketiganya tidak bisa dipisahkan karena saling membangun. Seorang penulis harus benar-benar memperhatikan tulisannya dengan baik. Sebelum menulis ia harus mempersiapkan tentang teks, konteks yang berupa makna dan reader yang menunjukkan untuk siapa teks itu diajukan
Tulisan yang baik, makna yang dihadirkan oleh penulis akan sampai kepada pembacanya, bisa saja terjadi missunderstanding antara makna yang dihadiekan penulis dan makna yang ditafsirkan oleh pembaca. Oleh karena itu, seperti craft atau kerajinan, menulis membutuhkan praktek dan latihan.
Academic writing yang kita pelajari  semester ini adalah critical review dan assignment essay. Critical review adalah kesempatan bagi kita untuk menganalisis isi sebuah buku atau artikel secara objektif. Apa yang penulis ungkap, siapa yang diuntungkan ataupun dirugikan oleh tulisan tersebut harus ada dalam sebuah critical review.
Jadi yang dapat saya simpulkan adalah language structure dari academic writing L2 adalah bahasa formal, fungsi teksnya adalah untuk tujuan pendidikan, proses menulisnya bisa dengan observasi, penelitian dan sebagainya. Objectivitas sangat mempengaruhi penulisan akademik.

Bumikan Indonesia Menulis

Appetizer Essay
February, 03rd 2014
Writing and Composition 4
By: Nofi Maryana

Bumikan Indonesia Menulis

Tulisan ini adalah critical review dari tiga artikel sekaligus. (Bukan) Bangsa Penulis yang diterbitkan oleh Pikiran Rakyat, 28 Februari 2012 dan Powerful Writers versus the Helpless Readers yang dipostkan oleh The Jakarta Post, 14 Januari 2012 yang keduanya ditulis oleh A.Chaedar Alwashilah, setaLearning and Teaching Process: More about Readers and Writers yang ditulis oleh C.W Watson.
            Artikel (Bukan) Bangsa Penulis secara garis besar memperlihatkan bahwa warga pendidikan baik itu mahasiswa ataupun dosen diharuskan untuk menulis. Apapun bentuk tulisannya tidak masalah asalkan yang berbau pendidikan karena dengan begitu mampu meningkatkan produktivitas bangsa ini. Ketika bapak Chaedar berkata bahwa Indonesia bukanlah bangsa penulis itu memang benar karena Indonesia juga bukan bangsa pembicara, bangsa pembicara adalah bangsa pekerja. Indonesia adalah bangsa pemikir. Segala sesustu hanya matang dipikirkan tanpa ada realisasinya. Meski gemar membacapun hanya sampai di pikiran saja, tak ada usaha untuk menuliskannya atau menyampaikannya pada orang lain.
            Kemudian, artikle kedua tentang Powerful Writers versus the Helpless Readers secara garis besar membahas kenyataan dibalik pernyataan seorang helpless reader. Penting bagi lembG pendidikan bahasa membentuk siswa yang mampu menjadi critical reader. Writing-oriented studentpun harus lebih ditekankan daripada reading-oriented student. Dalam artikel ini pula bapak Chaedar menghimbau para intelectual unt uk menulis textbook dalam bahasa indonesia
Sedangkan artikel ketiga mengungkap learning dan teaching process di IKIP Bandung (sekarang UPI) yang mana dosen bahasanya menggunakan buku yang ia bawa dari luar negeri namun tetap tidak bisa membuat mahasiswanya berbahasa inggris secara benar dan lancar.
            Sejatinya, Reading dan writing erat kaitannya. Reading adalah bekal dan fondasi dalam menulis. Semakin banyak membaca, akan lebih mudah untuk menulis. Namun kenyataan bahwa tingkat membacanya saja sudah rendah, bagaimana dengan tingkat menulisnya. Sebenarnya apa yang membuat sulitnya membaca dan menulis itu? Memang benar yang dikatakan oleh bapak Chaedar bahwa seseorang akan cenderung memilih buku yang hendak ia baca, yang sesuai dengan background dirinya. Mereka bahkan tidak tertarik pada suatu buku yang bukan seleranya, tapi itu wajar karena itu adalah haknya.
Kenyataan miris lainnya adalah indonesia memang produktif dalam mengeluarkan buku-buku tapi yang berbau novel, romance atau sejenisnya. Sedangkan buku-buku bernuansa ilmiah justru tak terlihat atau secara kasarnya memang tidak ada. Maka dari iu wajar apabila di jenjang pendidikan menggunakan buku berbahasa inggris atau asing sebagai sumber materi dan pembelajaran. Namun sangat disayangkan karena tidak jarang siswa atau mahasiswa yang tidak mengerti akan bahasa tersebut, sehingga pembelajaran bahasa inggris lebih difokuskan guna mengatasi masalah tersebut.
            Anehnya saat mahasiswa dihadapkan pada masalah tadi, sekarang mahasiswa malah dipaksa untuk menulis. Bagaimana siswa atau mahasiswa mau menulis, membaca buku saja mereka tidak mengerti karena sumber buku yang mereka gunakan berbahasa inggris. Lalu kenapa bukan buku bahasa indonesia saja yang dijadikan sumber? Sejatinya, mereka menggunakan sumer buku berbahasa inggris karena minimnya sumber buku pengetahuan bahkan tidak adanya buku pelajaran yang berbahasa indonesia.
Menulis jurnal? Mengapa harus jurnal? Jika sulit menyeleksi teks 400 halaman menjadi 15-20 halaman kenapa tidak membuat buku teks saja? Membuat buku akan lebih bermanfaat untuk pendikdikan, bukankah bapak Chaedar berkata bahwa jurnal hanya sebagai ajang silaturrahmi dan bukti kepakaran  ilmu semata. Membuat jurnal juga berarti hanya menyeleksi tulisan orang lain bukan? Memang jurnal dapat membuktikan bahwa dosen atau orang tersebut bisa menulis tapi apakah hanya itu. Jadi akan lebih baik jika seseorang yang telah membuat jurnal, yang telah menemukan rumus atau teori baru di khazanah ilmu pengetahuan juga membuat buku guna membumikan teorinya dan juga teori terbaru lainnya.
            Himbauan bapak Chaedar mengenai para dosen yang setidaknya satu tahun harus menulis jurnal atau textbook itu boleh saja, tapi yang perlu diperhatikan adalah management timenya. Jangan karena terlalu terfokus pada jurrnal atau buku tersebut lantas dosen mengabaikan tugas utamanya untuk mengajar. Biasanya dosen yang terlalu sibuk berkutat dengan jurnal atau bukunya tega menelantarkan mahasiswanya. Kemudian saya rasa bukan hanya dosen yang disarankan membuat buku atau jurnal, bisa saja guru atau dari profesi keilmuan lainnya yang berpartisipasi meningkatkan prokdutivitas buku pendidikan.
Selain peningkatan produktivitas buku pendidikan, negara kita juga butuh peningkatan critical-thinking. Critical thinking akan menghasilkan critical reading dan critical writing. Menggarisbawahi pernyataan bapak Chaedar bahwa pendidikan bahasa lebih berfokus pada reading (reading-oriented) tapi beliau setuju bahwa sebagian besar bangsa indonesia adalah helpless-reader. Jadi jika benar pendidikan bahasa kita adalah reader-oriented seharusnya kita bukanlah helpless reader,melainkan critical reader.
Ketika critical reader tidak mengerti akan apa yang ia baca, ia bisa saja berpendapat bahwa penulisnya yang tidak berkompeten. Namun, seorang critical writer berpendapat bahwa semua penulis pasti benar karena tulisan itu adalah tulisannya. Semua yang ia tulis adalah apa yang menurut ia benar dan yang ia cari tau sendiri kebenarannya. Jadi pantas apabila penulis berkata bahwa ia selalu benar. Oleh karena itu critical review hadir sebagai titik temu antara keduanya.
Dalam artikel ketiga penulis mengatakan bahwa proses belajar mengajar di Indonesia tidak sempurna karena syllabus dan sistem ujian yang salah. Contohnya mana mungkin hasil belajar 3 tahun baik di SMA atau SMP dapat diukur hanya dengan 3 hari Ujian Nasional. Hal ini sangat tidak objektif. Begitupula dengan reading dan writing literature. L1 adalah fondasi L2. Ketika mahasiswa hanya diberi asupan buku L2 saja, tentu mereka akan sulit untuk mencernanya. Namun apabila mereka diberikan asupan buku dalam L1 dan L2 tentu kemungkinan mereka mengerti akan jauh lebih besar karena L1 dan L2 seimbang.
Kenyataannya kembali lagi ke lapangan, tidak tersedianya buku-buku pendidikan berbahasa indonesia, membuat mereka tidak punya jalan lain selain menggunakan buku berbahasa inggris. Oleh sebab itu keberadaan profesor-profesor, para intelektual serta petinggi akademik indonesia mampu membuat dan mengeluarkan buku pendidikan berbahasa indonesia.

Kesimpulan yang dapat diambil dari ketiga artikel ini diantaranya, pertama artikel ini sangat bagus guna memotivasi warga pendidikan tentang pentingnya menulis. Kedua, tujuan penulis baik terhadap dosen, mahasiswa atau golongan lain sudah tercapai dengan baik. Hanya saja pada artikel ketiga tersebut penulis tidak seimbang dalam memberikan contoh-contoh atau penjelasan pendukung, seperti pernyataan bahwa mahasiswa diberikan buku yang dibawa oleh dosennya dari luar negeri. Penulis tidak membahas atau menjelaskan  bagaimana komentar atau sudut pandang para mahasiswa tersebut mengenai hal itu.